Faktor Lokasi Serta Menentukan Lokasi Yang Optimal



MANAJEMEN OPERASI
FAKTOR LOKASI SERTA MENENTUKAN LOKASI YANG OPTIMAL
Faktor Lokasi Serta Menentukan Lokasi Yang Optimal
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Sebelum suatu perusahaan mendirikan pabrik, biasanya direncanakan letaknya sebaik mungkin. Sebab letak ini berpengaruh terhadap biaya operasi atau produksi, harga jual, serta kemampuan perusahaan untuk bersaing di pasar. Hal ini sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Apabila pabrik sduah terlanjur berdiri ternyata baru diketahui kesalahan letaknya dan jika dipindah akan memakan biaya yang sangat mahal.
Tanpa perencenaan lokasi yang tepat, perusahaan dapat tergelincir kedalam perangkap-perangkap tersebut. Akibatnya perusahaan akan beroperasi dengan tidak efisien dan efektif. Oleh karena itu perusahaan-perusahaan perlu lebih berhati-hati dan melakukan analisa-analisa lebih baik, agar kesalahan-kesalahan yang mungkin dibuat dapat diperkecil atau bahkan dihilangakan sama sekali.
Faktor-faktor penting yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi masing-masing perusahaan adalah berbeda-beda. Alasan utama terjadinya perbedaan dalam pemilihan lokasi adalah adanya perbedaan kebutuhan masing-masing perusahaan. Lokasi yang baik adalah suatu persoalan individual. Hal ini sering disebut pendekatan situasional atau contigency utuk pembuatan keputusan bila dinyatakan secara sederhana, semuanya begantung.


B.            Rumusan Masalah
1.        Apa saja faktor-faktor dalam pemilihan lokasi?
2.        Bagaimana metode penetuan lokasi?
3.        Bagaimana strategi lokasi jasa yang baik?

C.           Tujuan
1.        Untuk mengetahui faktor-faktor dalam pemilihan lokasi.
2.        Untuk mengetahui metode penentuan lokasi.
3.        Untuk mengetahui strategi lokasi jasa yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN

A.           Faktor-Faktor dalam Pemilihan Lokasi
Pemilihan letak pabrik dipengaruhi oleh beberapa hal atau faktor. Ada yang membagi faktor-faktor itu ke dalam faktor primer dan faktor sekunder. Ada pula yang membaginya ke dalam faktor intern dan ekstern. Faktor primer adalah suatu faktor yang harus dipenuhi jika tidak dipenuhi proses produksi atau operasi tidak dapat berjalan sebaaimana mestinya. Sedangkan faktor sekunder adalah faktor yang sebaiknya ada, jika tidak dipenuhi masih dapat diatasi meskipun disertai dengan biaya yang relatif lebih mahal.
Macam faktor primer serta sekunder ini berbeda antara pabrik yang satu dengan yang lain. Misalnya, suhu udara untuk perkembangan teh merupakan faktor primer, sebab untuk mendapatkan teh dengan kualitas baik harus ditanam di daerah yang memiliki suhu dingin alami sehingga kebanyakan kebun teh terletak di pegunungan. Lain halnya dengan perusahaan tekstil, suhu udara merupakan faktor sekunder. Meskipun untuk menghasilkan tekstil dengan kualitas baik harus dilakukan di dalam pabrik yang suhunya antara 24 sampai dengan 26 derajat celcius, tetapi jika di dalam pabrik dapat di pasang AC, kegiatan produksi masih dapat dilakukan, meskipun biayanya agak mahal. Pabrik tekstil memang sebaiknya diletakkan di daerah dingin, tetapi kalau tidak masih dapat diatasi. Oleh karena itu, udara pada pabrik tekstil merupakan faktor sekunder. Dalam bagian ini tidak mungkin disebutkan pembagian faktor-faktor itu ke dalam primer dan faktor sekunder karena keadaan perusahaan yang berbeda-beda.




Untuk perencanaan lokasi terdapat faktor-faktor yang perlu diperhatikan yang dibagi menjadi faktor utama dan faktor sekunder. Rincian faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.             Faktor Utama, antara lain:
a.             Letak Konsumen atau Pasar
Konsumen adalah pembeli atau pemakai barang/jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan atau lembaga. Pabrik biasanya diletakkan di dekat konsumen dengan alasan sebagai berikut :
a.         Lebih mudah mengetahui perubahan selera konsumen
b.        Untuk mengurangi risiko kerusakan dalam pengangkutan
c.         Barang tidak tahan lama
d.        Biaya pengangkutan barang sangat mahal
e.         Jasa.[1]

b.    Letak Sumber Bahan Baku
Bertujuan untuk membuat bahan baku menjadi mudah, murah, cepat, dengan biaya pengangkutan yang rendah serta aman dalam perjalanan. Ada dua pertimbangan yang mendasari, yaitu:
·           Tingkat kebutuhan (Necessity)
Bagi perkebunan, pertanian dan perikanan begitu juga industri, misalnya: pabrik bubur kayu (pulp) dan kertas dan industri marmer kedekatan dengan bahan baku menjadi penting karena lebih sudah dari pada mengangkut bahan baku ke lokasi lain.
·           Tingkat ketahanan dari kerusakan (Perishability)
Mengatasi kerusakan selama pengangkutan, misalnya: pengalengan dan pembekuan ikan (cold storage), pengalengan buah-buahan (fruit canning) atau pengolahan susu sapi (dairy product).

c.    Ketersediaan Tenaga Kerja
Mencakup tingkat kecakapan, kecukupan kuantitas, tinggi rendahnya upah. Biaya tenaga kerja sangat penting bagi perusahaan padat karya (labor intensive), misalnya: industri tekstil, rokok dan sepatu. Tenaga kerja dibagi menjadi dua, yaitu:
·           Skilled Worker (tenaga kerja yang memiliki ketrampilan baik)
·           Low Skilled Worker (tenaga kerja yang memiliki ketrampilan rendah)

d.   Ketersediaan Tenaga Listrik
Diperlukan untuk menjalankan mesin-mesin, tenaga pemanas atau pendingin, dan untuk penerang. Jika pabrik membutuhkan listrik besar maka lokasi pabrik harus dekat dengan sumber listrik besar.

e.    Ketersediaan Air
Pemilihan lokasi yang dekat dengan sumber air besar akan sangat berguna untuk beberapa industri, seperti: untuk penyempurnaan industri tekstil, pendinginan reaktor nuklir, dan pencucian pada industri kulit.

f.     Fasilitas Pengangkutan
Ada 4 jenis fasilitas pengangkutan, antara lain:
·           Kereta api, untuk bijih besi, batu bara, pasir dalam gerbong bak terbuka (flatcar).
·           Angkutan jalan raya, seperti truk container ringan, van, dan mobil bak terbuka (pick-up).
·           Angkutan air, karena lebih murah. Yang diangkut misalnya: barang kimia, produk kehutanan, semen, pupuk, dan minyak.
·           Angkutan udara, sering untuk pengankutan yang segera (waktu cepat), misalnya: buah-buahan, surat kabar/majalah, dan ikan hias.[2]

2.             Faktor sekunder, antara lain :
a.    Fasilitas perumahan, pendidikan, perbelanjaan, dan telekomunikasi
b.    Pelayanan kesehatan, keamanan dan pencegahan kebakaran
c.    Peraturan pemerintah setempat
d.   Iklim
e.    Biaya dari tanah dan bangunan
f.     Peraturan lingkungan hidup
g.    Tempat parkir
h.    Saluran pembuangan
i.      Kemungkinan perluasan
j.      Karakteristik tanah
k.    Lebar jalan, dsb[3]

B.            Metode Penentuan Lokasi
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk merencanakan letak pabrik, yaitu antara lain :
1.             Factor-Rating Method (Metode Pemeringkatan Faktor)
Terdapat banyak faktor, baik kualitatif maupun kuantitatif yang dipertimbangkan dalam memilih sebuah lokasi. Beberapa faktor ini lebih penting dari faktor lainnya sehingga manajer dapat menggunakan bobot untuk membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih objektif. Metode ini sering digunakan karena mencangkup beragam faktor, mulai dari pendidikan, rekreasi, hingga keterampilan tenaga kerja.
Metode pemeringkatan faktor memiliki enam langkah berikut:
a.    Membuat daftar faktor yang berhubungan yang disebut faktor penentu keberhasilan.
b.    Memberikan sebuah bobot untuk setiap faktor untuk menggambarkan kepentingan relatif dalam tujuan perusahaan.
c.    Membuat sebuah skala untuk setiap faktor (sebagai contoh: 1 hingga 10 atau 1 hingga 100 poin).
d.   Meminta penilaian manajemen untuk setiap lokasi dan setiap faktor dengan menggunakan skala pada langkah ke-3.
e.    Kalikan nilai dengan bobot setiap faktor dan jumlahkan nilai total untuk setiap lokasi.
f.     Membuat rekomendasi berdasarkan nilai poin maksimal yang juga mempertimbangkan hasil dari pendekatan kuantitatif.
Contoh:
Five Flags Over Florida, yang merupakan salah satu dari sepuluh rantai taman hiburan keluarga di Amerika, telah memutuskan untuk memperluas operasinya ke luar negeri dengan membuka taman hiburan pertamanya di Eropa. Five Flags ingin memilih antara Perancis dan Denmark. Tabel berikut memberikan daftar faktor penunjang keberhasilan penting yang telah ditetapkan manajemen; bobot dan peringkat mereka untuk lokasi: Dijon (Perancis) dan Copenhagen (Denmark) adalah sebagai berikut:

Faktor Penunjang Keberhasilan


Bobot
Nilai
(1 hingga 10)
Nilai Berbobot


Perancis


Denmark


Perancis


Denmark
Sikap dan ketersediaan tenaga kerja
0,25
70
60
(0,25)(70) = 17,5
(0,25)(60) = 15,0

Rasio orang-mobil

0,05

50

60

(0,05)(50) = 2,5

(0,05)(60) = 3,0
Pendapatan per kapita
0,10
85
80
(0,10)(85) = 8,5
(0,10)(80) = 8,0

Struktur pajak

0,39

75

70

 (0,39)(75) = 29,3

(0,39)(70) = 27,3
Pendidikan dan kesehatan
0,21
60
70
(0,21)(60) = 12,6
(0,21)(70) = 14,7

Total

1



70,4

68
Tabel diatas mengindikasikan penggunaan bobot untuk mengevaluasi alternatif lokasi taman. Dengan maksimal nilai 100 diberikan untuk setiap faktor, maka lokasi di Perancis merupakan pilihan yang lebih baik. Dengan sedikit mengubah nilai atau bobot untuk setiap faktor yang meragukan, sensitivitas terhadap keputusan dapat dianalisis.
Jika sebuah keputusan bersifat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil, maka analisis lebih lanjut mengenai pembobotan atau penilaiannya mungkin perlu dilakukan. Sebagai alternatif lain, manajemen dapat menyimpulkan faktor yang tidak nyata bukan merupakan kriteria yang tepat sebagai dasar pengambilan keputusan lokasi. Oleh karena itu, manajer menempatkan bobot utama pada aspek keputusan yang lebih kuantitatif.

C.           Strategi Lokasi Jasa
Analisis lokasi di sektor industri terfokus pada minimalisasi biaya, sementara fokus pada sektor jasa ditujukan untuk memaksimalkan pendapatan. Hal ini disebabkan karena perusahaan manufaktur mendapati biaya cenderung sangat berbeda diantara lokasi-lokasi yang berbeda, sementara perusahaan jasa mendapati lokasi sering berdampak terhadap pendapatan daripada biaya. Oleh karena itu bagi perusahaan jasa, lokasi yang spesifik kerap lebih memengaruhi pendapatan daripada memengaruhi biaya. Hal ini berarti fokus lokasi bagi perusahaan jasa seharusnya adalah pada penetapan volume bisnis dan pendapatannya.
Terdapat delapan komponen utama volume dan pendapatan perusahaan jasa:
1.             Daya beli di wilayah yang dapat menarik pelanggan.
2.             Kesesuaian antara jasa dan citra perusahaan dengan demografi wilayah yang dapat menarik pelanggan.
3.             Persaingan di wilayah tersebut.
4.             Kualitas persaingan.
5.             Keunikan lokasi perusahaan dan pesaing.
6.             Kualitas fisik fasilitas dan bisnis di sekitarnya.
7.             Kebijakan operasional perusahaan.
8.             Kualitas manajemen.[6]
Analisis yang realistis dari faktor-faktor diatas dapat memberikan gambaran yang layak mengenai pendapatan yang diharapkan.
Teknik-teknik yang digunakan dalam sektor jasa meliputi: analisis korelasi, perhitungan lalu lintas, analisis demografis, analisis daya beli, metode pemeringkatan faktor, metode pusat gravitasi, dan sistem informasi geografis.
Berikut adalah tabel yang merangkum strategi lokasi untuk organisasi jasa dan industri.
Lokasi Organisasi Jasa/Eceran/Profesional
Lokasi Perusahaan Manufaktur
Fokus pada Pendapatan
Fokus pada Biaya
Volume/pendapatan
Biaya nyata
Lokasi yang menarik pelanggan; daya beli.
Biaya pengiriman bahan mentah.
Persaingan; iklan/penentuan harga.
Biaya pengantaran barang jadi.
Kualitas fisik
Biaya energi dan layanan umum;
     tenaga kerja; bahan mentah;
     pajak, dan lain-lain.
Parkir/akses; keamanan/penerangan;
     penampilan/citra.
Biaya tidak nyata dan akan segera terjadi.
Penentu biaya
Sikap terhadap serikat pekerja.
Sewa.
Kualitas hidup.
Manajemen yang berkualitas.
Biaya pendidikan yang ditanggung
     oleh pemerintah negara bagian.
Kebijakan operasi (jam kerja, tingkat upah).
Kualitas pemerintahan negara
     bagian dan lokal.
Teknik
Teknik
Model regresi untuk menetapkan kepentingan
     beragam faktor yang ada.
Metode transportasi.
Metode pemeringkatan faktor.
Metode pemeringkatan faktor.
Analisis demografis lokasi yang menarik
     pelanggan.
Analisis titik impas lokasi.
Metode pusat gravitasi.
Metode pusat gravitasi.
Asumsi
Asumsi
Lokasi merupakan penentu utama
     pendapatan.
Lokasi adalah penentu utama biaya.
Permasalahan hubungan yang erat dengan
     pelanggan sangat penting.
Sebagian besar biaya utama dapat
     diidentifikasikan secara eksplisit
     untuk setiap lokasi.
Biaya cenderung konstan pada daerah tertentu.
     Oleh karena itu, fungsi pendapatan sangat
     penting.
Hubungan rendah dengan pelanggan
     memungkinkan perusahaan
     berfokus pada biaya yang dapat
     diidentifikasi.

Biaya tidak nyata dapat dievaluasi.


PENUTUP

A.           Kesimpulan
Lokasi dapat menentukan hingga 10% biaya total sebuah perusahaan industri. Lokasi juga merupakan elemen penting dalam menentukan pendapatan perusahaan jasa, eceran, dan profesional.  Perusahaan industri perlu mempertimbangkan baik biaya nyata maupun tidak nyata. Permasalahan lokasi perusahaan industri biasanya diatasi dengan metode pemeringkatan faktor, metode pusat gravitasi, metode median sederhana dan metode transportasi dari pemrograman linier.
Untuk organisasi jasa, ecera, dan profesional, analisis biasanya dibuat dari berbagai variabel, termasuk daya beli suatu daerah, persaingan, iklan dan promosi, kualitas fisik lokasi, dan kebijakan operasional organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Subagyo, Pangestu. 2000. Manajemen Operasi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Ariani, Wahyu. 2009. Manajemen Operasi Jasa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Murdifin dan Mahfud. 2014. Manajemen Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa, Jakarta: PT. Bumi Aksara.



[1] Pangestu Subagyo, Manajemen Operasi, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2000), hlm. 54
[2] Wahyu Ariani, Manajemen Operasi Jasa, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 248
[3] Ibid, hlm. 251
[4] Murdifin Haming dan Mahfud Nurjanamuddin, Manajemen Produksi Modern Operasi Manufaktur dan Jasa, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2014), hlm. 208-210
[5] Ibid, hlm.213
[6] Diambil di http://nugrahandani.blogspot.co.id/2013/05/strategi-lokasi-manajemen-operasi.html, diakses pada tanggal 16 Maret 2016 pukul 19:33
 
Author : Faizul Qomarullah Ahmad    

0 komentar:

Post a Comment