Ayat Ekonomi tentang Riba QS. an-Nisa' (4) : 160-161 dan Korelasi (hubungan) Ayat dengan Fenomena Ekonomi Kontemporer

 Ayat Ekonomi tentang Riba
(Riba sebelum Islam)
QS. an-Nisa' (4) : 160-161



Terjemah
160.  Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan Karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,
161.  Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Tafsir Ayat 

{فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (161)}
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haram­kan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang da­hulunya) dihalalkan bagi mereka, karena mereka banyak meng­halangi (manusia) dari jalan Allah, disebabkan mereka memakan riba. padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Allah Swt. memberitahukan bahwa disebabkan perbuatan aniaya orang-orang Yahudi karena mereka telah melakukan berbagai macam dosa besar, maka Allah mengharamkan kepada mereka makanan yang dihalalkan bagi mereka sebelumnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr yang mengatakan bah­wa Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan:

"طَيِّبَاتٍ كَانَتْ أُحِلَّتْ لَهُمْ"

beberapa jenis makanan yang dahulunya dihalalkan bagi mereka.

Pengharaman ini adakalanya bersifat qadri atas kemauan mereka sen­diri. Dengan kata lain, pada mulanya Allah memberikan keleluasaan kepada mereka, tetapi ternyata mereka melakukan penakwilan dalam kitab mereka; mereka mengubah dan mengganti banyak hal yang di­halalkan bagi mereka. Kemudian mereka mengharamkannya atas diri­nya sendiri yang akibatnya mempersulit dan mempersempit diri mere­ka sendiri.

Adakalanya pengharaman ini bersifat syar'i. Dengan kata lain, Allah Swt. mengharamkan kepada mereka di dalam kitab Taurat ba­nyak hal yang dahulunya dihalalkan kepada mereka sebelum itu. Se­perti yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنزلَ التَّوْرَاةُ}

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebe­lum Taurat diturunkan. (Ali Imran: 93)

Dalam pembahasan yang lalu mengenai tafsir ayat ini disebutkan bah­wa makna yang dimaksud ialah semua jenis makanan adalah halal se­belum Taurat diturunkan, kecuali apa yang diharamkan oleh Nabi Ya*qub untuk dirinya sendiri dari daging unta dan air susunya.

Kemudian Allah Swt. mengharamkan banyak jenis makanan di dalam kitab Taurat, seperti yang disebutkan di dalam surat Al-An'am melalui firman-Nya:

{وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ}

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala bina­tang yang berkuku dari sapi dan domba. Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang mele­kat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Ka­mi adalah Mahabenar. (Al-An'am: 146)

Dengan kata lain, Kami haramkan atas mereka hal tersebut karena mereka memang berhak menerimanya disebabkan kezaliman, kedur­hakaan mereka, dan mereka selalu menentang rasul mereka serta ba­nyak bertanya kepadanya. Karena itulah dalam surat An-Nisa ini dise­butkan oleh firman-Nya:

{فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا}

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haram­kan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang da­hulunya) dihalalkan bagi mereka dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (An-Nisa: 160)

Yakni mereka menghalang-halangi manusia dan diri mereka sendiri dari mengikuti perkara yang hak. Sikap tersebut merupakan watak mereka sejak zaman dahulu hingga sekarang tanpa ada perubahan. Karena itulah mereka adalah musuh para rasul; mereka banyak mem­bunuh nabi-nabi, juga mendustakan Nabi Isa a.s. dan Nabi Muham­mad Saw.
Korelasi (hubungan) Ayat dengan Fenomena Ekonomi Kontemporer

Riba dan Perilaku orang Yahudi

Perilaku Yahudi

Dinamisasi kehidupan ummat sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik secara individu maupun publik. Tidak terkecuali perilaku dan tabiat. Yahudi merupakan salah satu golongan yang sangat keras terhadap ummat Islam, Allah SWT berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)

Berikut ini sifat dan perilaku Yahudi yang secara tidak langsung dilakukan oleh seorang muslim menurut Surat Ali-Imran ayat 78:
1. Tidak menjaga amanah

Allah SWT berfirman:     
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
                      
Artinya: “Diantara mereka sungguh ada segolongan yang merubah ucapan mereka dalam membaca Al-Kitab supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan, “ia dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta atas nama Allah, sedang mereka mengetahuinya.”

Para pendeta Yahudi melakukan kutipan kata-kata yang berasal dari pemuka agama mereka kemudian menyisipkannya dalam rangkaian pembacaan kitab suci mereka dalam rangka mengelabui ummat Islam. Dengan secara semacam ini diharapkan umat Islam percaya bahwa kata-kata yang mereka baca itu berasal dari sisi Allah swt. Padahal sebenarnya itu buatan mereka sendiri.

2. Kaum yang senang berdusta

Ayat ini pun menjelaskan bahwa kaum Yahudi sangat senang berdusta. Dusta yang dilakukan oleh kaum Yahudi dengan kedok agama Allah adalah tindakan yang sengaja, bukan kekeliruan.

Oleh karena itu, orang Yahudi terkenal sebagai orang yang tidak menjaga amanah (contohnya mereka mengubah isi al Kitab dan mengelabui umat Islam dengan menyampaikan sesuatu yang berbeda dari isi al Kitab) dan dikenal sebagai pendusta atas nama Tuhan. Padahal berbohong atas nama Rasul saja tidak boleh apalagi atas nama Tuhan. Sebagaimana sabda Nabi Saw:

من كذب علي متعمدا فليتبوأمقعده من النار

Artinya: Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW: "Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka". (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll).

Penyakit Yahudi semacam ini juga menimpa sebagian besar umat Islam sekarang. Mereka punya anggapan sudah pasti masuk surga, biar dosa apapun yang mereka lakukan karena mereka memiliki keyakinan bahwa setiap orang Islam pasti akan mendapat pertolongan Nabi, asalkan mengaku beragama Islam walaupun tidak melaksanakan syari’at Islam, bahkan melakukan perbuatan yang biasa dilakukan orang kafir atau munafik. [3]

Perilaku Yahudi dalam Q.S. Al-Maidah: 41

1. Antara yang diucapkan dan di hatinya berbeda

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ
ه وَمِنَ الَّذِينَ َادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيم

Artinya : “Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS: Al-Maidah Ayat: 41)

Al-Mutsana menceritakan kepadaku, ia berkata : Abu Shalih, juru tulis al-Laits, menceritakan kepada kami, ia berkata : Uqail menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, ia berkata : seorang laki-laki dari Muzaimah mengabarkan kepadaku dari orang yang mendalam ilmunya, ia menceritakan dari Sa’id bin Musayyab, bahwa Abu Hurairah berkata : ketika kami bersama Rasulullah SAW, seorang laki-laki dari kaum Yahudi datang kepada beliau. Kaum Yahudi telah bermusyawarah untuk menetapkan hukuman bagi pelaku zina yang telah muhshan. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian lainnya, “sesunggunya Nabi ini benar-benar telah diutus, dan kalian mengetahui bahwa kalian telah diwajibkan untuk menegakkan hukum rajam seperti yang tercatat dalam Taurat, namun kalian menyembunyikannya dan berdamai mengenai hukuman tersebut dengan hukuman yang lebih ringan. Sekarang, mari kita pergi untuk menanyakannya kepada Nabi itu. Apabila ia menyatakan sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, yaitu rajam, maka kita tinggalkan dia, sebagaimana kita tinggalkan hukum yang ada di dalam Taurat, padahal ia lebih pantas untuk dijadikan pegangan dan diikuti.

Merekapun mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “wahai Abu al-Qasim, sesungguhnya sesorang diantara kami telah berzina, padahal ia telah muhshan (menikah), apakah hukuman yang harus diberikan padanya ?” Rasulullah tidak menjawabnya, lalu beliau berdiri dan kamipun berdiri bersama beliau, lalu pergi menemui pemimpin alim Yahudi, dan mendapati mereka sedang mengaji Taurat di majelis pengajian Taurat. Nabi Muhammad SAW berkata kepada mereka, “wahai sekalian kaum Yahudi ! Aku menyumpah kalian atas nama Tuhan yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah yang kalian temukan di dalam Taurat mengenai hukuman bagi orang yang melakukan zina muhshan?” mereka menjawab, “kami mendapati hendaknya ia dicoreng dengan arang dan dicambuk.

Namun orang yang alim di antara mereka hanya diam di sisi majelis, maka ketika beliau melihatnya hanya terdiam, beliau mendatanginya dan mendesaknya dengan pertanyaan yang sebelumnya. Orang alim itupun berkata, “baiklah, jika engkau bersikeras, kami mendapati hendaknya dihukum dengan rajam.” Rasulullah SAW kemudian berkata kepadanya, “lalu apakah yang mengubah hukum Allah ?” ia menjawab, “keponakan seorang penguasa melakukan zina, dan penguasa iu tidak merajamnya. Lalu ada seseorang dari kalangan rakyat biasa yang berzina, dan penguasa tersebut hendak merajamnya, maka kaumnya berseru, ‘demi Allah, janganlah kau merajamnya hingga kau merajam keponakanmu’. Merekapun bersepakat untuk mengganti hukum rajam dengan yang lebih ringan, dan merekapun tidak mengindahkan hukum rajam. “Rasulullah SAW lalu berkata, “sesungguhnya aku memutuskan dengan apa yang ada dalam Taurat”.[5] Lalu Allah menurunkan ayat diatas.

Asbabun Nuzul ayat tersebut mengisahkan bagaimana watak Yahudi yang munafik (apa yang di ucapkan tidak sejalan dengan hatinya). Senang sekali mendengar berita-berita bohong atau berita-berita buruk yang belum tentu kebenarannya. Dalam kontek umat Islam, seringkali ditemui saudara muslim lainnya yang suka menyaksikan acara infotainment,  mendengar berita yang belum tentu benar bahkan membenarkan kabar tersebut dan juga mengubah kata-kata dari makna yang sebenarnya.

C. Ayat-Ayat Lain yang Bersangkutan

1. Sifat Rakus dan Mencintai Kesenangan Dunia

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Bangsa Yahudi merupakan manusia yang paling serakah terhadap dunia, sekalipun dibanding orang-orang musyrik. Firman Alah yang berbunyi: “bahkan melebihi orang-orang musyrik”, adalah sebagai kalimat penghinaan terhadap mereka. Karena memang orang-orang musyrik tidak percaya pada hari kebangkitan dan hanya mengenal kehidupan dunia ini saja, maka bukanlah hal yang aneh kalau mereka serakah kepada kehidupan dunia saja. Adapaun orang yang beriman kepada kitab Allah dan mengakui adanya hari pembalasan, maka seharusnya dia tidak serakah kepada kehidupan ini.

Saat ini banyak orang-orang muslim yang berlomba –lomba untuk mencari kesenangan dunia layaknya orang Yahudi. Perilaku tersebut diantaranya semakin maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh orang muslim dan perebutan kekuasaan demi menempati jabatan tertinggi di pemerintahan.

2. Sifat Sombong

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُم صَادِقِين

Artinya: Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar ".

Sombong, tinggi hati dan rasis adalah sifat tercela yang dimiliki Kaum Yahudi sepanjang sejarah mereka. Mereka menganggap diri mereka sebagai manusia yang paling mulia yang berada di puncak. Begitu pula yang terjadi di kalangan umat muslim saat ini, begitu banyak umat muslim yang lebih senang memamerkan segala apa yang dimiliknya layaknya umat Yahudi.

3. Sifat Lebih Takut Pada Manusia daripada Allah
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. [9]

Sebagaimana orang Yahudi, orang muslim saat ini lebih banyak yang takut pada sesamanya daripada takut pada Allah SWT. Misalnya adalah orang muslim yang lebih takut pada atasan kerjanya jika dia tidak atau terlambat mengerjakan tugasnya dari pada takut pada Allah jika tidak mengerjakan shalat.

4. Menganggap Dirinya Paling Pandai

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya : Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus"[10]

Bangsa Yahudi selalu menganggap bahwa dirinya adaah yang paling pintar dari manusia lainnya. Sifat tersebut tercermin pula dalam diri umat Islam saat ini. begitu banyak umat Islam yang menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling pandai dan paling bena sehingga tidak mau mendengarkan omonga dan nasehat dari orang lain.

5. Menganggap Dagang dan Riba Sama Saja

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ  فِيهَا خَالِدُون

Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.[11]

Bangsa Yahudi menghalalkan Riba, karena beranggapan bahwa keuntungan dengan berjual-beli dan keuntungan membungakan uang sama saja. Begitu pula yang terjadi di kalangan umat muslim saat ini. Begitu banyak tindak riba yang di lakukan umat muslim dalam kehidupan sehari-hari. 

Kesimpulan

Daftar pustaka

0 komentar:

Post a Comment