Awing Safi Episode 1

Malam telah datang, hiruk pikuk kehidupan masih belum sirna dari pendengaran, seorang pemuda masih mencoba mengendalikan emosinya. Dia sedang tidak mood dengan keadaannya. Pikirannya melayang-layang memikirkan sosok yang dia kagumi (kekasihnya). Namun dia enggan untuk membalas pesan dari kekasihnya. (Awing Safi adalah pemuda berusia 21 tahun yang berprinsip bahwa hidupnya adalah untuk memberi manfaat orang lain).

"Yuana kirana." Dia menyebut nama kekasihnya dalam hati.

Yuana kirana adalah remaja berusia 19 tahun. Perempuan yang giat berorganisasi, suka cemburu ketika melihat Awing Safi berdekatan dengan perempuan lain, tapi terkadang suka memberi kejutan untuk Safi.

"Malam ini perasaanku ndak tenang. Entah kenapa. Untuk sekedar inbokan sama kamu pun ndak mood sama sekali."

Safi masih merasakan perasaan yang tidak menentu. Dia terus memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya, tapi membuatnya gelisah.

"Ada apakah gerangan, kenapa perasaanku ndak tenang?"
"Semoga baik-baik saja."

Safi teringat rencana yang sudah hampir terorganisir dengan baik, tapi dia enggan untuk memikirkannya malam ini. Rasa galau itu benar-benar membuatnya malas untuk berfikir. Dia hanya ingin menenangkan dirinya.

"Dunia ini serasa tawar jika aku harus berfikir tentang dunia, namun aku melalaikan kehidupan setelahnya."
"Walaupun aku mencintaimu, tapi aku lebih suka dengan kesendirianku. Entah kenapa aku lebih suka menyendiri. Mungkin aku harus lebih memperbanyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku ingin melakukan apa yang telah disarankan oleh Rasulullah. Aku ingin menjadi anak yang selalu mendoakan orang tua. Aku ingin membahagiakan anak yatim. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan rencana yang sudah aku buat."
"Tapi Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah seorang pemuda yang tidak punya apa-apa. Keluargaku bukan keluarga yang kaya. Bapakku hanyalah tukang becak. Emakku hanyalah penjahit yang sudah tidak produktif. Saudara-saudaraku hanyalah orang biasa. Tapi aku yakin, Aku pasti bisa lebih sukses dari mereka."

"Sebenarnya aku masih bingung dengan masa depanku. Tapi entahlah aku ini aneh."

Udara malam masuk menyelinap sela-sela fentilasi berjalan menyapa kulit ari, mengikuti setiap jalan yang sudah ditentukan oleh Sang Ilahi Robbi.

"Dinginnya malam ini, semoga tidak seperti malam-malam sebelumnya."

Safi terbayang dengan mimpi akhir-akhir ini. Mimpi yang aneh dalam 3 hari terakhir. Dia bermimpi melakukan kesalahan yang melibatkan banyak orang.
Dia juga sering diganggu jin dalam tidurnya. Terkadang jin itu membawa Safi masuk ke alamnya, terkadang tiduran diatasnya. Dan lain sebagainya.

"Safi!"  Terdengar suara ibunya memanggil.
"Katanya mau menggoreng telur." Lanjutnya.

"Hmm.. oh iya. Tapi tadi emak masak ayam kan?" Safi balik bertanya.

"Iya. Itu sudah matang."

"Ya sudah, aku mau makan masakan ayam saja mak."

Safi langsung menuju ruang makan.

Dalam hal bertata krama, Safi memang kurang begitu mengerti. Terkadang dia bingung ketika banyak orang yang mencium tangan orang yang dianggap terhormat.

Dia pernah berpikir "Mencium tangan orang tuaku pun hanya setahun sekali. Itupun pada hari raya idul fitri. Kenapa aku harus mencium tangan orang lain, sedangkan aku sendiri hanya mencium tangan orang tuaku cuma setahun sekali. Inilah yang membuatku bingung dalam bertata krama."

Safi mengambil piring dan mengambil nasi dalam tempat penghangat nasi. Terlihat dia hanya mengambil nasi dengan porsi yang sedikit, jika dibandingkan dengan ukuran porsi makan untuk seorang pemuda. Seperti biasa, dia lebih suka memperbanyak lauknya daripada nasinya. Walaupun begitu, masih terlihat porsinya lebih sedikit.
Setelah dirasa cukup, Safi berdoa dan menikmati makanannya.

Ada hal yang unik dari Awing Safi ketika dia makan. Dia terbiasa makan dengan menggunakan 3 jari, jika makanannya tidak berkuah. Kebiasaan itu berawal dari nasehat ayahnya pada waktu kecil tentang tata cara makan yang sesuai dengan sunnah Rasul.

Setelah selesai makan dia kembali ke tempat tidurnya, duduk sebentar sambil merenung, kemudian tiduran sambil menulis diary di ponselnya dan tertidur.

Kebiasaan buruk Awing Safi adalah melupakan doa sebelum tidur dan doa bangun tidur.

* * *

Keesokan harinya Safi terbangunkan oleh suara pintu yang terbuka. Dia menoleh ke pintu.
"Mbakku ternyata." Safi bergeming.
"Alhamdulillah, dengan suara pintu itu, aku terbangun dari mimpi yang menegangkan itu." Dia belum bisa melupakan mimpi yang baru saja dialaminya.
Dia bermimpi melihat sekelompok orang yang dikubur hidup-hidup.
Tapi disaat penguburan hampir selesai, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari liang kubur itu. Ternyata seorang pemuda muncul dari dalamnya.
Safi sempat berfikir,"ah, ini cuma rekayasa agar dipuji orang banyak dan biar dianggap hebat. Nanti ujung-ujungnya menipu. Ini tidak bisa dibiarkan."
Pemuda itu pamitan untuk pulang.
"Heehh.. mau kemana kamu?" Tahan Safi sambil memegang erat tangan pemuda itu.
Tapi pemuda itu tetap bersikeras untuk pergi dan terjadilah aksi tarik-menarik antara Safi dengan pemuda itu. Safi berteriak-teriak meminta bantuan orang-orang di sekitarnya agar menahan pemuda itu, sambil menarik tangan pemuda itu, tapi tidak ada satupun orang yang peduli. Safi mencoba memanggil kakaknya, tapi kakaknya tidak segera datang.

Pemuda itu tersenyum-senyum dan mengeluarkan sebilah pisau. Safi melihat gerak-gerik pemuda itu langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah dan mengambil kuda-kuda(1).
"Waduh bahaya. Ternyata dugaanku benar." Safi memutar otak sambil menjaga jarak agar bisa menghindari kontak fisik dengan pemuda itu.

Dari belakang pemuda itu, terlihat teman Safi melangkah mendekati pemuda itu dengan sangat hati-hati, kemudian merebut pisau dari tangan pemuda itu dan memberikannya kepada Safi.

Suasana sedikit hening. Sekarang Safi sudah memegang sebilah pisau, giliran pemuda itu yang mundur beberapa langkah. Teman Safi sudah pergi entah kemana.

Dengan langkah penuh waspada, Safi berusaha mendekati pemuda itu dengan sebilah pisau di tangan kanannya.

Pemuda itu bergerak mundur dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Ternyata dari belakang pemuda itu muncul orang berbadan besar, berbrewok lebat, berkulit hitam yang membawa celurit.
Safipun kaget dan langsung mundur beberapa langkah lebih jauh, berniat untuk lari. Tapi sebelum Safi sempat lari ternyata orang itu sudah melempar celuritnya ke arah Safi dan langsung bersembunyi di balik bangunan pondok. Safi berusaha menghindar, tapi celurit itu sudah mengenai lengan Safi..
"Astaghfirullah." Dia melihat ke lengannya. "Alhamdulillah cuma sedikit."
Safi mengambil celurit itu. Sekarang dia memegang pisau dan celurit. Dia ketakutan, tapi berusaha meyakinkan diri.
"Aku ndak takut. Aku pasti bisa mengalahkan mereka"
Dengan langkah penuh keyakinan, Safi mendekati tempat persembunyian mereka. Setelah sampai di dekat tempat itu, Safi melompat kesamping dengan gaya seperti pemain action di TV  yang siap melempar pisaunya. Tapi ternyata mereka sudah menghilang tanpa jejak. Safi pun terjatuh di atas tanah sambil kebingungan.
"Lhoh, kok orangnya tidak ada? Padahal tadi masih disini?
Entahlah, yang penting aku selamat." Safi berjalan pulang.

Di depan rumahnya Safi melihat keluarganya sedang berjaga-jaga.

"Benar dugaanku kan? Mereka itu orang-orang jahat yang pura-pura baik." Safi bergeming dalam hatinnya.

"Itu itu !! ada orang yang muncul dari sekitar sumur!" Adik Safi berteriak sambil menunjuk arah yang dia maksud.

Safi bergegas lari ke sumur. Tapi suara pintu sudah membangunkan Safi dari mimpinya.

Safi tersadarkan dari lamunannya, tapi dia masih terbayang-bayang mimpi itu. Dia belum mau beranjak dari tempat tidurnya.Dia melihat kearah jam dinding.
"Sudah pukul 05.45 wib. Bangun ah, sebelum kena marah :)" Diapun bergegas bangun mengambil air wudhu dan sholat subuh.
Akhir-akhir ini Safi bangun kesiangan, karena memang udara yang dingin membuat dia agak malasan, ditambah dengan suasana bulan ramadhan yang masih tersisa di benaknya.
(Pada bulan ramadhan, Safi sering tidur setelah sahur, terkadang lupa sholat subuh).

* * *

Selesai sholat subuh, Safi kembali ke tempat tidurnya, mengambil ponsel dan menulis diary.

Tidak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00. Itu menandakan pukul 07.45 untuk jam wib. Jam dinding itu memang sudah di atur lebih cepat 15 menit dari jam wib semenjak bulan ramadhan. Gunanya adalah untuk mengatur jadwal memasak, agar tidak keburu imsyak.

Melihat kakaknya yang sudah siap-siap berangkat kerja, Safi pun bergegas mandi kemudian makan, dan ikut berangkat kerja bersama kakaknya.

Saat ini Safi masih libur kuliah. Dia diajak kakaknya untuk membantu bekerja di salah satu perusahaan konveksi di kampung tetangganya.
Kakak Safi bernama Hara. Dia adalah anak pertama yang sayang pada keluarganya. Dia selalu mendukung adik-adiknya dalam belajar.

* * *

Sampai di tempat kerja, Safi langsung menuju ke mesinnya dan bekerja.

Terlihat tempat kerjanya yang berantakan. Banyak kain-kain jeans yang berserakan, tapi Safi terlihat nyaman dengan keadaan seperti itu. Dia hanya sedikit membersihkan debu di sekitar mesin yang dia pakai.

Ponsel Safi bergetar beberapa kali, itu menandakan ada panggilan masuk.

"Siapa yang nelpon?" Safi bertanya-tanya dalam hatinya. Dia segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menerima panggilan.

"Hallo?" Sambil menebak-nebak siapa orang di seberang sana.
"Hallo kak. Saya mau ke rumah kakak sekarang, bisa nggak ya?" Jawab suara perempuan di seberang sana.
Sambil menebak-nebak dalam pikirannya, Safi menjawab,"Waduh, saya masih kerja dek, nanti saja ya jam dua belas? nunggu jam dua belasnya sambil jalan-jalan dululah, kemana gitu hhe" Safi balik bertanya dengan nada becandanya.
"Ya udah, nanti aku telepon lagi ya kak?" Jawab perempuan itu.

Sambungan telepon terputus

Safi memasukkan kembali ponsel, ke saku celananya sambil melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul 09.40 wib. Kemudian dia melanjutkan kerjanya.

Belum sampai 5 menit, ponselnya kembali bergetar.

Safi menerima panggilan.
"Hallo"
"Kak. Ke rumah kakaknya jadinya sekarang kak. Kita udah di jalan nih, sama kak Dika juga ini." Rengek suara dari seberang sana.
"Oke, okelah." Jawab Safi
"Beneran ya kak?" Tanya perempuan itu seperti tidak percaya
"Iya, oke." Jawab Safi meyakinkan.
"Ya udah, aku otw kesana kak."

Sambungan telepon terputus.

Safi kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia mulai tahu, siapa suara di seberang sana. Sambil melanjutkan kerja dalam hatinya bertanya-tanya," Ada keperluan apa ya? Lebaran sudah usai. Mungkin cuma sekedar main saja."

Beberapa saat kemudian, Safi mematikan mesinnya, berpamitan kepada kakaknya untuk pulang, dan meluncur pulang kerumah.

* * *

Setelah sampai di depan rumah, Safi terkejut melihat temannya...

* * *

Bersambung...

Apa yang membuat Safi terkejut?
Siapa perempuan itu?
Apa maksud perempuan itu datang?
Dan bagaimana kisah selanjutnya?

Baca Selengkapnya di Awing Safi episode Ke-2

Jangan lupa tinggalkan kritik sarannya di kolom komentar ya :)

0 komentar:

Post a Comment